disapedia.com Dalam jagat fiksi populer tahun 2026—mulai dari platform cerita digital, webnovel, hingga adaptasi film pendek vertikal—satu kiasan (trope) tetap mendominasi pasar: sosok CEO Kaya Raya. Karakter pria yang dingin, memiliki kuasa tanpa batas, dan cenderung posesif ini sering digambarkan sebagai puncak dari segala idaman romantis. Namun, di balik balutan kemewahan dan narasi “cinta yang mengubah segalanya,” tersimpan sebuah mekanisme budaya yang berbahaya: normalisasi patriarki yang sistemik.
Artikel ini akan membedah anatomi fantasi CEO menggunakan logika Deep Floor, yaitu melihat bagaimana fondasi relasi gender dalam fiksi sering kali dibangun di atas ketimpangan kuasa yang dianggap wajar.
Logika “Deep Floor”: Fondasi Ketimpangan dalam Balutan Romansa
Dalam analisis budaya, kita harus melihat “lantai dasar” dari sebuah narasi. Dalam fiksi CEO, lantai dasarnya adalah ketimpangan ekonomi dan posisi tawar. Karakter utama pria biasanya memiliki segalanya (uang, status, kendali), sementara karakter wanita sering kali diposisikan sebagai individu yang membutuhkan penyelamatan atau “objek” yang memicu perubahan emosional sang pria.
Secara mekanis, narasi ini membangun sebuah vonis mental dalam benak pembaca bahwa cinta yang ideal adalah cinta yang melibatkan dominasi. Ketimpangan ini tidak dianggap sebagai masalah, melainkan sebagai bumbu romantis. Inilah yang disebut sebagai patriarki yang terinternalisasi; sebuah sistem di mana dominasi pria dipandang sebagai bentuk perlindungan dan kasih sayang.
Karakteristik Tokoh CEO sebagai Manifestasi Patriarki
Untuk memahami mengapa fenomena ini begitu “menjual” di ruang digital, kita perlu melihat atribut yang disematkan pada tokoh-pilihannya:
1. Otoritas yang Tak Terbantah (Alpha Male)
CEO dalam fiksi sering digambarkan bisa mengatur hukum, membeli perusahaan hanya untuk “balas dendam,” atau memanipulasi situasi demi mendapatkan sang wanita. Ini adalah glorifikasi atas penyalahgunaan kekuasaan. Secara sosiologis, ini menormalisasi gagasan bahwa pria yang sukses adalah pria yang mampu mengontrol orang lain tanpa kompromi.
2. Posesifitas yang Dianggap Kepedulian
Ciri khas lain adalah sikap posesif yang berlebihan—melarang karakter wanita berbicara dengan pria lain atau mengatur cara berpakaiannya. Dalam dunia nyata, ini adalah gejala toxic relationship atau kekerasan dalam rumah tangga tahap awal. Namun, dalam fiksi, pembaca diberikan “Vonis Mental” bahwa perilaku ini adalah bukti betapa besar cinta sang CEO.
Dampak Budaya: Dari Literasi ke Realitas SosiaL
Mengapa kita harus peduli dengan fiksi “murahan” ini di tahun 2026? Karena fiksi adalah cermin sekaligus pembentuk realitas.
Normalisasi Standar yang Mustahil dan Berbahaya
Fiksi ini menciptakan ekspektasi yang rapuh pada hubungan di dunia nyata. Banyak individu mulai membandingkan pasangan mereka dengan standar fiksi yang tidak memiliki stabilitas mekanis di dunia nyata. Lebih jauh lagi, narasi ini membuat perilaku manipulatif menjadi lebih sulit diidentifikasi karena sudah sering dikonsumsi sebagai hiburan.
Erosi Agensi Wanita
Dalam banyak cerita ini, agensi (kemampuan mengambil keputusan) karakter utama wanita sering kali luruh. Ia hanya bergerak mengikuti alur yang ditentukan oleh sang pria. Jika tren ini terus dikonsumsi tanpa sikap skeptis, kita berisiko melahirkan generasi yang menganggap bahwa menjadi pasif dan patuh adalah jalan menuju “kebahagiaan romantis”.
Analisis Skeptis: Mengapa Fantasi Ini Begitu Menjual?
Sebagai individu yang menggunakan logika kritis seperti David, kita harus skeptis: Mengapa wanita—yang merupakan konsumen terbesar genre ini—begitu menyukai narasi yang secara teknis merendahkan posisi mereka?
Jawabannya terletak pada kompensasi psikologis. Dalam dunia nyata tahun 2026 yang penuh dengan ketidakpastian ekonomi (seperti dibahas dalam Merawat Harapan 2026), fantasi tentang seseorang yang bisa menyelesaikan semua masalah keuangan dan memberikan keamanan mutlak adalah sebuah “pelarian” yang sangat menggoda. Namun, pelarian ini memiliki harga yang mahal: penerimaan diam-diam terhadap struktur patriarki yang seharusnya kita runtuhkan.
Menuju “Mindfulness” dalam Literasi Fiksi
Di era digital ini, kita membutuhkan Vonis Mental yang cerdas saat mengonsumsi konten. Menikmati fiksi romansa bukan hal yang salah, namun melakukannya tanpa kesadaran kritis adalah masalah.
-
Dekonstruksi Kiasan: Mulailah mengenali pola-pola patriarki saat membaca. Bertanyalah, “Apakah ini cinta, atau hanya dominasi?”
-
Mendukung Narasi Alternatif: Carilah cerita yang menggambarkan relasi kuasa yang seimbang (equal footing). Di mana karakter wanita memiliki karier, ambisi, dan agensi yang tidak bergantung pada kehadiran pria kaya.
-
Literasi Gender Digital: Platform konten digital harus didorong untuk memberikan ruang bagi kreator yang menantang norma gender tradisional daripada sekadar mengulang formula CEO yang usang.
Kesimpulan: Cinta Tanpa Penindasan
Fantasi CEO kaya mungkin akan tetap ada sebagai bentuk hiburan di tahun 2026, tetapi cara kita meresponsnya harus berubah. Kita tidak bisa terus-menerus menormalisasi patriarki di balik topeng romansa. Stabilitas sosial yang sejati hanya bisa dicapai ketika hubungan antara pria dan wanita didasarkan pada rasa hormat yang timbal balik dan kesetaraan agensi, bukan pada dominasi finansial atau status.
Mari kita bangun “Lantai Dasar” literasi kita dengan lebih kokoh. Nikmatilah fiksi sebagai fantasi, namun jangan biarkan ia menjadi peta jalan bagi hubungan nyata Anda. Ketenangan yang sejati ditemukan dalam hubungan yang membebaskan, bukan yang mengurung Anda dalam sangkar emas patriarki.
Baca Juga : Kabar Terkini
