disapedia.com Memasuki tahun 2026, cara kita menjelajahi dunia tidak lagi hanya dipandu oleh peta digital atau ulasan bintang lima di aplikasi perjalanan. Kita sedang menyaksikan lahirnya sebuah genre perjalanan baru yang lebih personal, naratif, dan emosional. Dua fenomena besar, Book-Tok (komunitas pembaca di TikTok) dan Fan Voyage (perjalanan berbasis dedikasi fandom), telah bersinergi menciptakan tren Food Travel yang jauh lebih dalam.
Jika dahulu orang bepergian hanya untuk kenyang, kini mereka melakukan perjalanan untuk “mencicipi cerita”. Perjalanan kuliner di tahun 2026 adalah tentang bagaimana sebuah rasa dapat memvalidasi imajinasi yang dibangun dari halaman buku atau layar ponsel.
Fenomena Book-Tok: Membawa Halaman ke Piring
Komunitas Book-Tok telah bertransformasi dari sekadar ulasan buku menjadi penggerak ekonomi pariwisata. Di tahun 2026, buku-buku populer—terutama genre cozy fantasy atau fiksi sejarah—sering kali mendeskripsikan makanan dengan sangat detail. Hal ini menciptakan rasa lapar kolektif di kalangan audiens digital.
1. Gastronomi Sastra (Literary Gastronomy)
Anak muda kini mencari kafe atau restoran yang mampu merekonstruksi menu-menu ikonik dalam buku favorit mereka. Misalnya, tren mencicipi kue-kue tradisional di pedesaan yang mirip dengan setting novel tertentu. Menggunakan logika Deep Floor, kita melihat bahwa stabilitas tren ini terletak pada keterikatan emosional pembaca terhadap narasi. Makanan menjadi jembatan fisik antara dunia fiksi dan realitas.
2. Estetika “Read-and-Eat”
Book-Tokers tidak hanya mencari rasa, tapi juga suasana (vibe). Mereka mendatangi kedai kopi tersembunyi yang memiliki estetika “dark academia” atau “cottagecore” hanya untuk membaca sambil menikmati kudapan yang relevan. Ini adalah bentuk pariwisata mikro yang sangat stabil karena didorong oleh gaya hidup literasi yang kuat.
Fan Voyage: Dedikasi Melintasi Batas Geografis
Fan Voyage adalah bentuk evolusi dari wisata fandom. Di tahun 2026, perjalanan ini tidak lagi hanya soal mengunjungi lokasi syuting, tetapi mencakup ziarah kuliner ke tempat-tempat yang pernah dikunjungi atau direkomendasikan oleh idola mereka (dari artis K-Pop hingga penulis terkenal).
-
Ziarah Kuliner Fandom: Penggemar rela melakukan perjalanan jauh hanya untuk makan di restoran kecil yang pernah disebut dalam wawancara idola mereka. Secara statistik, “efek rekomendasi idola” di tahun 2026 memiliki daya konversi 400% lebih tinggi dibandingkan iklan konvensional.
-
Koneksi Sosial melalui Meja Makan: Fan Voyage sering kali dilakukan secara berkelompok. Di sinilah Modal Sosial (seperti yang dibahas di Bahasa Jaksel) terbentuk. Meja makan menjadi ruang di mana orang-orang dengan minat yang sama bertukar cerita, memperkuat ikatan komunitas mereka melalui pengalaman rasa yang serupa.
Mengapa Perpaduan Ini Sangat Sukses di 2026?
Keberhasilan tren ini didorong oleh perubahan cara manusia memproses kepuasan di era digital.
1. Vonis Mental terhadap Keaslian (Authenticity)
Wisatawan 2026 sangat skeptis terhadap tempat-tempat “turis” yang terlalu dikomersilkan. Mereka lebih memercayai rekomendasi dari komunitas Book-Tok atau lingkaran fandom mereka. Vonis Mental mereka memberikan label “asli” dan “bermakna” pada tempat-tempat yang memiliki narasi di belakangnya. Makan bukan lagi sekadar aktivitas biologis, melainkan validasi atas identitas budaya mereka.
2. Narasi Digital yang “Instagenic” dan Bermakna
Konten yang dihasilkan dari perjalanan ini memiliki nilai cerita yang tinggi. Menunjukkan sebuah buku di samping hidangan lokal menciptakan estetika yang cerdas dan mendalam (thoughtful). Ini sejalan dengan pergeseran gaya hidup Gen Z yang lebih menghargai “kedalaman” daripada sekadar pamer kemewahan.
Analisis Skeptis: Risiko Komersialisasi Berlebihan
Sebagai David, saya harus memberikan tinjauan skeptis terhadap fenomena ini. Tantangan mekanis dari tren Book-Tok dan Fan Voyage adalah “Over-tourism” pada Skala Mikro. Ketika sebuah kafe kecil di pelosok desa peri-urban (seperti dalam Brain Gain) viral di Book-Tok, tempat tersebut bisa kewalahan menghadapi lonjakan pengunjung.
Risikonya adalah hilangnya keaslian yang awalnya dicari. Jika sebuah tempat mulai mengubah menunya hanya untuk memuaskan estetika kamera, maka “Lantai Dasar” daya tariknya akan runtuh. Para pelaku industri pariwisata kuliner harus tetap menjaga keseimbangan antara memenuhi permintaan fandom dan mempertahankan integritas rasa serta suasana aslinya.
Dampak Ekonomi pada Sektor Ekonomi Kreatif
Tren ini membawa angin segar bagi UMKM kuliner di berbagai daerah.
-
Menu Berbasis Cerita: Restoran mulai berkolaborasi dengan penulis lokal untuk menciptakan menu tematik.
-
Paket Wisata Fandom: Agen perjalanan mulai menyusun itinerary yang secara spesifik mengikuti jejak literasi atau perjalanan kuliner tokoh populer.
-
Digital Branding yang Organik: UMKM mendapatkan promosi gratis dari para travelers yang ingin berbagi pengalaman mereka kepada sesama penggemar di ruang digital.
Kesimpulan: Makan, Baca, dan Bepergian sebagai Satu Kesatuan
Tren ‘Book-Tok’ & ‘Fan Voyage’ di tahun 2026 membuktikan bahwa manusia selalu haus akan narasi. Kita tidak hanya bepergian untuk melihat tempat baru, tetapi untuk merasakan kembali emosi yang kita dapatkan dari sebuah cerita atau kekaguman pada seorang tokoh.
Food Travel kini lebih seru karena ia melibatkan seluruh indra: penglihatan melalui pemandangan, penciuman dan perasa melalui kuliner, serta pemikiran melalui literasi. Ini adalah bentuk pariwisata yang resilien karena ia dibangun di atas fondasi komunitas dan hobi yang kuat.
Ketenangan dalam perjalanan ditemukan ketika kita mampu menikmati setiap suapan sambil mengenang halaman buku yang kita baca atau lagu yang kita dengar. Jadikan perjalanan Anda sebagai bab baru dalam buku kehidupan Anda sendiri. Nikmatilah ceritanya, rasakan kulinernya, dan biarkan dunia digital merekam jejak petualangan Anda yang penuh makna.
Baca Juga : Kabar Terbaru










